Selamat Datang Di website resmi perpustakaan SMA N 1 WONOGIRI

Tuesday, 25 Jun 2019
You are here: Home
Kemampuan Berbahasa Lisan: Kajian Psikolinguistik PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 17 January 2019 00:00

Kemampuan berbahasa lisan siswa kelas XI pada saat pembelajaran Bahasa Indonesia pada materi tentang ceramah mengidikasikan bahwa siswa memiliki kemampuan yang bervarisi. Gejala kompleksitas kemampuan tersebut tampak pada ekspresi mimik, gestur, lafal, dan intonasi yang berkualita srendah. Sementara, rendahnya gejala ekspresi tersebut menyebabkan rendahnya kualitas berbahasa lisan siswa. Hal seperti ini terjadi manakala keadaan kejiwaan siswa tidak stabil. Proses seperti ini tidak lepas dari studi bahasa tentang psikolinguistik.

John Field menyatakan bahwa psikolinguistik adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana pikiran manusia dalam mempelajari atau menggunakan dan memperoleh bahasa. Hal ini dapat pula dimaknai bahwa ilmu ini meliputi pemerolehan, penyimpanan, dan penggunaan bahasa sepanjang hidup manusia.

Ada banyak ruang lingkup kajian psikolinguistik, salah satunya adalah otak dan bahasa. Seperti kita ketahui bahwa otak merupakan pusat dari segala aktivitas manusia. Sesuai dengan kajian ini, otak mengatur emosi, motivasi, dan pikiran manusia sehingga akan termanivestasi dalam berbahasa. Campur tangan otak dalam berbahasa inilah yang akan menunjukkan kemampuan berbahasa lisan siswa pada saat praktik ceramah di hadapan guru dan para temannya. Secara khusus akan dikaji sebagai berikut ini.

 

Ekspresi mimik merupakan hasil dari perubahan gerakan otot pada wajah manusia. Otak menerima rangsangan dari luar, mengolahnya, kemudian memberikan instruksi kepada otot wajah sehingga terjadi perubahan mimik yang dapat dimaknai bahwa seorang siswa dalam keadaan malu, takut, percaya diri, bangga, dan lain-lain. Seorang siswa berekspresi malu apabila otot bagian samping kiri dan kanan mulut tertarik kearah pipi sehingga wajahnya manunjukkan keadaan tersenyum sambil matanya memandang kebawah.

Otak juga akan memerintahkan otot anggota tubuh yang lain untuk menunjukkan gesture tertentu. Fenomena ini terlihat ketika muka menunduk, bahkan kedua telapak tangan menutup wajah. Kasus lain bias saja terjadi siswa melakukan gerak tubuh yang berlebihan, misalnya melompat-lompat. Ini sebagai dampak dari kegagalan berbahasa. Pada saat seperti inilah terjadi siswa berbicara dengan terbata-bata dan sering mengucapkan kata yang tidak padu dengan isi kalimat.

Kesalahan lafal pun tak dapat dielakkan pada saat jiwa siswa tidak sedang dalam kondisi tertata. Jiwa yang sedang dalam kondisi tertekan mempengaruhi otak mengirimkan pesan yang salah pada saat seharusnya melafalkan kata tertentu. Celakanya, jika kesalahan lafal itu membentuk ucapan berupa kata yang jorok atau bermakna jorok. Sebagai contoh, siswa bermaksud mengucapkan kata perikemanusian tetapi yang terucap malah pelikemanusiaan. Peristiwa ini mengundang rusaknya suasana pada forum itu.Belum lagi ini juga akanm \embuat kondisi pikiran penceramah semakin tertekan.

Intonasi dapat dimaknai tinggi rendahnya nada suara, irama bicara, atau alunan nada bicara. Siswa yang pertama kali tampil sebagai penceramah cenderung berintonasi monoton sebab terbawa emosi negatif, jiwanya tertekan menghadapi banyak mata memandangnya. Ekspresi semacam ini dipengaruhi oleh kemampuan dan intensitas pemerolehan dan penyimpanan bahasa. Siswa yang jarang mengikuti dan melakukan ceramah, khazanah varian intonasi juga rendah. Padahal, sebenarnya gampang sekali berintonasi. Intonasisuara yang baik yang mestinya dimiliki seorang public speaking adalah intonasi suara ketika kita berbicara seperti biasa kepada orang lain.

Kemampuan berbahasa lisan siswa dapat maksimal apabila pikiran siswa pada saat memperoleh dan menggunakan bahasa dapat maksimal pula. Sebaliknya, kemampuan berbahasa lisan siswa rendah ketika pikirannya tertekan atau tidak tertata baik.

 

Artikel ini ditulis oleh:

 

Warseno, S.Pd, M.Pd

 

Guru pelajaran Bahasa Indonesia

 

SMA Negeri 1 Wonogiri

 

Last Updated on Wednesday, 20 March 2019 12:20